Marah merupakan tabiat dan bawaan manusia. Akan tetapi, seseorang muslim yang senantiasa berhubungan dengan Allah SWT, akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak meluapkan kemarahannya. Ini dilakukan dengan cara menjauhi semua perkara yang dapat menimbulkan kemarahan dan berusaha meredam amarah tersebut jika kemarahan itu muncul.

Dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam al-Arba’in al-Nawawiyyah, Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadis:

أَنَّ رَجُلًاً قَالَ لِلنَّبِيِّ أَوْصِنِيْ قَالَ : لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً قَالَ : لَا تَغْضَبْ

Sesungguhnya seorang laki-laki meminta nasehat kepada Rasulullah Saw, kemudian Rasulullah Saw mengatakan: “Janganlah marah!” Lalu laki-laki tersebut mengulang permintaannya dan Rasulullah Saw tetap mengatakan: “Janganlah marah!”

Dalam kitab Al-Wafi fi Syahril Arba’in An-Nawawiyah disebutkan bahwa mencegah atau meredam kemarahan bisa dilakukan dengan banyak cara yang telah diajarkan oleh Islam. Di antaranya adalah:

1. Melatih jiwa dengan berbagai akhlak terpuji, seperti: Sabar, lemah lembut, tidak tergesa-gesa dalam segala hal, dan lain sebagainya.

2. Mengingat-ingat dampak yang ditimbulkan dari marah, keutamaan meredam amarah dan keutamaan memaafkan orang yang berbuat salah. Allah swt. Berfirman: “Dan orang yang bisa meredam amarah dan memaafkan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berlaku ihsan.” ( Ali’Imran : 134 ).

Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda. “Barangsiapa yang menahan amarah dan ia sebenarnya mampu untuk melupakannya. Maka pada hari kiamat kelak, ia akan dipanggil Allah dihadapan semua makhluk-Nya, lalu ia disuruh memilih bidadari yang ia inginkan.”

3. Ber-ta’awudz (mengucapkan Audzu billahi minasyaithonirrojiim/aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk).

Allah swt.Berfirman,”Dan jika engkau ditimpa godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raf: 200).

Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian marah dan dia berdiri, maka duduklah, karena kemarahan akan hilang. Jika belum juga hilang maka berbaringlah.” Hal ini dikarenakan posisi berdiri lebih mudah untuk meluapkan dendam, lain halnya dengan duduk ataupun berbaring.

5. Berhenti bicara

Karena dengan berbicara, sangat mungkin kemarahannya bertambah, atau ia mengucapkan perkataan yang akan ia sesali setelah kemarahannya reda.

6. Berwudhu

Karena pada dasarnya, kemarahan adalah api yang membara dalam diri manusia, maka air akan memadamkan api tersebut. Wudhu juga merupakan ibadah dalam rangka dzikrullah (mengingat Allah swt.), yang membuat setan yang sedang menyalakan api amarah pada diri seseorang, lari dan bersembunyi.

Demikianlah beberapa hal yang dapat diupayakan seorang muslim agar ia tidak dikuasai oleh amarah dan menimbulkan dampak yang tidak baik.(Misbahuddin)

DomaiNesia DomaiNesia